DPRD Kota Medan Desak Aparat Penegak Hukum Segera Tangkap Para Calo Pengurusan BPJS Lakukan Pungli

Sebarkan:


Medan | Inihari

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan Antonius D Tumanggor S.sos meminta Aparat Penegak Hukum (APH) khususnya Polsek Medan barat Polrestabes Medan mengusut tuntas dugaan pungli pengurusan BPJS Kesehatan di Kantor Kedeputian Wilayah Sumatera Utara dan DI Aceh, kantor cabang Medan, Jalan Karya, Kecamatan Medan Barat, Jumat (11/12/2020).

Hal ini dikatakan Antonius pasca mencuatnya keluhan warga tentang pengurusan BPJS Kesehatan yang dinyatakan sulit, alhasil warga pun rela membayar para Calo untuk kemudahan pengurusan.


Wakil ketua fraksi Partai Nasdem Antonius D Tumanggor S.sos, juga dalam penyampaiannya mengatakan agar dalam situasi sulit seperti sekarang ini, Masyarakat jangan dipermain mainkan, ujarnya.


Sudah menjadi kewajiban Pemerintah Kota Medan, memberikan kemudahan ditengah tengah Masyarakat. "Kenapa bisa lewat Calo dikatakan cepat selesai" berarti diduga ada oknum - oknum tertentu melakukan pembiaran,” kata Antonius.


Dewan yang juga dari dapil l (satu) ini juga mendesak pihak Dinas Perhubungan juga turut hadir berperan disana, perhatikan kemacetan disana, dan Parkir - parkir liar agar ditertibkan.


Setelah diberitakan sebelumnya pada media ini, Kantor Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Medan Sumatera Utara menuai sorotan tajam berbagai pihak. 


Pasalnya, Kantor Kedeputian Wilayah Sumatera Utara dan DI Aceh, kantor cabang Medan di Jalan Karya, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan tersebut kerab dijumpai aksi "pungli" terhadap warga yang mengurus BPJS Kesehatan di kantor tersebut.


Seperti halnya diceritakan warga yang berada dilokasi inisial nama AT (56) bahwa di usianya yang senja, dia tidak begitu mengerti mengurus BPJS ini lewat jalur Online. "Lewat Calo mahal biaya untuk bayar," keluhnya, Senin (7/12/2020).


Lebih lanjut dikatakan AT, bahwa Ia sudah berusaha untuk hadir sebelum jam kantor buka yakni pukul 07:00 wib, namun belum pernah mendapatkan kesempatan untuk memiliki nomor antrian. Disisi lain para calo kok bisa ngurus yang katanya siap dua puluh menit itu, bebernya.


Ditambahkan warga lainnya dilokasi, bahwa pagi-pagi Ia sudah sampai di Kantor BPJS, namun nomor antrian pelayanan sudah habis. "Kata pegawai hanya melayani 100 nomor antrian," ucap warga.


"Memang kurang baiklah pelayanan disini bang, warga pun dilayani diluar pagar. Macam tak dianggap awak, lewat online pun di daftar gagal terus, ada saja persyaratannya yang kurang, ini kan Program pemerintah, harusnya dipandulah agar warga tak kesulitan mendaftar lewat online," kesalnya. 


Disinilah letak calo itu bertumbuh subur, jangan-jangan ini sengaja di pelihara," sebut warga lagi.dari pantawan awake media .


Seorang pria bertubuh tambun, dan berkulit gelap mengatakan, ia mampu mengurus BPJS Kesehatan tersebut 20 menit siap jadi. Disinggung Awak Media nomor antrian sudah habis apa masih bisa masuk? "Bisa bang, kalau sama kita urusan gampang itu, kan ada orang dalam," akunya.


Di lokasi yang sama awak media mencoba berbincang dengan security, dengan berbataskan pagar gerbang, security yang tidak diketahui namanya itu mengatakan setiap hari pihaknya hanya melayani warga sejumlah seratus-an orang saja.


Ditemui di ruangan kantornya pihak BPJS Cabang Medan, Staf Komunikasi Publik, Redo mengutarakan bahwa pihaknya sudah melalui prosedur. Untuk pelayanan pihaknya hanya melayani seratus-an warga per tiap harinya.


"Iya bang pasca Covid-19 merebak, kami hanya melayani seratus warga tiap harinya, sisanya lewat online saja," pungkasnya.


Disinggung awak media, bahwa banyak warga yang mengeluhkan kesulitan didalam pendaftaran online, serta adanya Calo pengurusan BPJS kesehatan di ruang lingkupnya.


Redo pun mengatakan bukan tugasnya untuk menindak pelaku Calo tersebut. Ia pun mengatakan kalau ada pegawai yang demikian agar disampaikan, agar di usulkan ke Pimpinan untuk dipecat. "Kalau ada lapor ke saya, agar saya lapor ke pimpinan agar dipecat," tutupnya. (SP)


Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini