Komnas Perlindungan Anak Selamatkan "BABY SMOKER" di Indonesia

Sebarkan:
Ketua Umum Kommas Perlindungan Anak Arist Merdeka Siraitption
Harianmediarakyat.com - Fakta menunjukkan bahwa di Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun belakangan ini  ditemukan ada banyak anak  menjadi perokok pemula bahkan anak oleh industri rokok dijadikan sebagai sasaran utama dan strategi dalam meningkatkan produknya. Fakta ini tidak dapat terbantahkan dan sudah terlihat dari bentuk-bentuk iklan yang menyasar anak-anak remaja. 

Oleh sebab itu jangan heran jika di Indonesia ditemukan  ada banyak anak dan tersebar di berbagai daerah anak sudah menjadi pencandu rokok bahkan ditemukan ada banyak balita dibiarkan sebagai   "baby smokers".

Jika sekarang anak Indonesia sedang menghadapi serangan pandemi Covid 19, namun sudah begitu lama sesungguhnya anak Indonesia  dibiarkan diserang oleh bahaya pandemi racun rokok yang mematikan itu. 

Sungguh ironi memang,  bahwa ada banyak anak usia balita justru dibiarkan menjadi "baby smoker" tanpa mendapat perlindungan dari negara. 

Ada banyak anak saat ini menjadi sasaran iklan dalam berbagai bentuk sebagai strategi jitu meningkatkan produksi  rokok. 

Iklan, olah raga, pentas seni bahkan melalui pemdekatan pemberian beasiswa pendidikan dan pelatihan kerja digunakan sebagai strategi mengembangkan iklan terselubung. 

Tengok saja pemberian beasiswa pendidikan yng dikemas melalui aktivitas yayasan sosial, pencarian bibit-bibit  atlik dan olahragawan, dampaknya muncul pemahaman sosial baru yang sengaja ditanamkan dalam kehidupan anak sejak usia dini bahwa rokok di promosikan sebagai produk normal.  Itulah image yang terus dibangun oleh industri Rokok di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Bahwa fakta yang terjadi, anak remaja  dan balita saat ini adalah estapet keberlangsungan dari industri rokok pengganti perokok dewasa yang sudah mulai sakit-sakitan dan berhenti merokok.

Secara terang'-terangan ini terjadi tetapi pemerintah dan atau negara diam dengan alasan bahwa industri adalah penyubang devisa negara dari pajak rokok yang mumpuni namun pemerintah dan industri  lupa bahwa rokok juga adalah penyumbang utama rusaknya kesehatan masyarakat maupun masa depan kesehatan khususnya  anak-anak.

Itulah strategi jitu industri rokok yang selalu dikembangkan saat ini. Tidaklah adil jika pemerintah dan negara tidak hadir untuk menyelamatkan anak yang telah menjadi  sasaran dan pelanggan industri rokok dan membiarkan anak menjadi baby smoker dan diserang oleh bahaya rokok. 

Dengan membiarkan anak remaja terjebak menjadi pelanggan   industri rokok dan menjadikan anak balita sebagai baby smoker, negara, pemerintah , masyarakat dan industri rokok dapat dikategorikan gagal melindungi anak dari bahaya racun rokok dan telah melakukan pembiaran terjadinya kekerasan terhadap anak. 

Sebab semua anak secara universal mempunyai hak untuk dilindungi dari bahaya zat adiktif seperti rokok dan berhak pula terbebas dari belenggu zat adiktif lainnya yang ada disekitarnya

Oleh sebab itu, demi kepentingan terbaik anak atas kesehatan dan anak terbebas dari eksploitasi industri rokok, dalam memperingati hari Anti Tembakau Sedunia hari ini 31 Mei 2020, Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga independen dibidang perlindungan anak yang diberikan tugas dan fungsi untuk memberikan pembelaan dan perlindungan anak bersama Lembaga Perlindungan Anak (LPA) yang tersebar diberbagai wilayah nusantara memdesak pemerintah untuk membebas anak sebagai sasaran industri rokok  sebagai perokok pemula dengan segala bentuk strategi iklannya dan membebaskan anak balita sebagai predikat baby smoker di Indonesia. 

Kemudian melarang secara total (total ban) semua bentuk iklan dan menjadikan rokok sebagai pandemi yang  merusak kesehatan masyarakat khusus anak dan balita serta menjadikan Rokok sebagai  produk illegal yang dilarang serta  menjadikan rokok sebagai  "pandemi" merusak kesehatan masyaralat yang harus dimusnakan , demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan anak dalam menyikapi hari tembakau sedunia hari ini 31 Mei 2020. (Komnas Perlindungan Anak)
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini