Sumut Dipastikan Inflasi Bulan Januari 2020

Sebarkan:

Medan- Fluktuasi harga sejumlah komoditas pangan di bulan Desember lebih terkendali dibandingkan dengan bulan januari ini. Dimana, di bulan januari ada variasi harga yang sangat mencolok, bahkan di masing-masing pasar tradisional. Ada perbedaan harga yang sangat mencolok yang mengakibatkan perbedaan harga yang signifikan diantara pedagang, meskipun di pasar yang sama. Hal ini dikatakan Ketua Pemantau Pangan Sumut, Gunawan Benjamin, Rabu (29/1/2020).

Rata-rata harga cabai di bulan januari 2020 bisa memliki selisih Rp. 5000 untuk harga cabai. Di bulan Januari harga cabai merah dijual dengan rata-rata 30 ribu hingga 35 ribu per Kg. Sementara di bulan Desember, dijual rata-rata dalam rentang 26.800 hingga 27.800 per Kg nya. Secara keseluruhan harga cabai akan menyumbang inflasi di bulan ini.

"Angkanya cukup signifikan, mengingat harga cabai di bulan januari mengalami kenaikan harga dalam rentang 10% hingga 25%. Harga bawang merah selama januari ini juga mengalami kenaikan yang cukup besar. Rata-rata naik sekitar Rp.7000 per Kg. Kalau di Desember 2019 rata-rata harga bawang merah dijual dikisaran 31 ribuan per Kg, selama Januari di jual dengan rata rata harga 38 ribuan per kg nya," ujarnya.

Bawang putih yang dijual dikisaran harga 30 hingga 32 ribu per Kg di januari, juga mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya yang berkisar 28 ribuan per Kg. Demikian halnya dengan cabai rawit, rata-rata mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya sekitar 27 ribuan per Kg, saat ini dijual dikisaran 39 ribuan per Kg.

"Hanya daging ayam saja yang sejauh ini mengalami penurunan harga. Saat ini harga daging ayam dijual dengan rata rata 30 ribuan per Kg, sementara dibulan sebelumnya dijual berkisar 32 ribuan per Kg. Ditambah dengan kenaikan harga rokok, yang secara konsisten akan mempengaruhi inflasi selama januari. Ada juga iuran BPJS serta di beberapa daerah, terjadi kenaikan harga LPG yang jelas-jelas belum dinaikkan oleh pemerintah," ujarnya.

Dia nmenilai Sumut berpeluang mencetak inflasi setidaknya 0.6% di bulan januari ini. Dan dikarenakan ada variasi harga cabai yang lumayan lebar, inflasi  Sumut bisa saja mencapai 0.8% atau lebih. Januari ini sangat sulit memperkirakan inflasi dikarenakan ada varian harga yang besar di sejumlah komoditas penyumbang inflasi dari bahan pangan.

"Secara keseluruhan, saya menilai pengendalian inflasi di tahun 2020 jauh lebih sulit dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun tahun kemarin kita dihadapkan dengan lonjakan inflasi yang besar hingga kuartal kedua. Namun sejumlah harga yang diatur pemerintah serta kenaikan LPG nantinya akan sangat membebani pengendalian inflasi," katanya.

Ditambah cuaca dengan curah hujan tinggi di sejumlah wilayah, dan ditambah dengan serangan virus corona di Cina, yang membuat Indonesia akan membatasi gerak impor barang dari cina. Padahal, ada sejumlah kebutuhan pangan yang harus diimpor dari Cina. Dan kalau seandainya pengawasan ketat dilakukan, bukan tidak mungkin akan menjadi masalah bagi pembentukan inflasi di tanah air.

"Memang penguatan Rupiah akan mengkompensasi potensi kenaikan harga barang impor. Akan tetapi, pelarangan ataupun pengawasan ketat ini justru bisa memicu terjadinya kelangkaan barang itu sendiri. Yang bisa memicu kenaikan harga yang lebih besar. Belum lagi berbicara mengenai teknis dilapangan dimana proses impor tadi bisa saja memakan waktu yang lebih lama, serta menghabiskan biaya yang semakin besar," ujarnya.

Ditambah lagi masih ada ketidakpastian lainnya. Seperti maslah geopolitik di Timur tengah, hingga masalah PEMILU di AS yang semuanya akan bermuara kepada instabilitas pembentukan harga komoditas global yang nantinya akan memberikan peluang terciptanya pembentukan harga yang lebih buruk di masyarakat.(ja)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini