Produk Perlengkapan Musik Asal Indonesia Berhasil Raih Transaksi Potensial Sebesar USD 1,4 Juta

Sebarkan:

Jakarta- Produk instrumen dan perlengkapan musik asal Indonesia berhasil meraih transaksi potensial sebesar USD 1,4 juta atau Rp19,4 miliar di The National Association of Music Merchants (NAMM) Show 2020. The NAMM Show 2020 merupakan pameran musik terbesar di dunia yang digelar pada 1619 Januari 2020 di Anaheim Convention Center, California, Amerika Serikat (AS).

"Keikutsertaan Indonesia ini adalah yang ketiga kalinya pada pameran The NAMM Show. Tahun ini, Indonesia telah menghasilkan transaksi potensial ekspor sebesar Rp19,4 miliar dari produk alat musik tersebut. Komitmen ini menunjukkan bahwa pasar produk-produk alat musik asal Indonesia dengan merek lokal dapat diterima dan berdaya saing di pasar dunia, khususnya AS. Tentu ini menggembirakan dan menjadi tolak ukur bagi perkembangan industri alat musik tanah air," ujar Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Los Angeles, Bayu Nugroho.

Paviliun Indonesia menampilkan berbagai instrumen musik dan perlengkapannya. Sebanyak empat produsen alat musik asal Indonesia turut berpartisipasi, yaitu Sjuman Instruments, Dr. Case, Stranough Guitar Technology, dan Genta Guitar. Seluruh produk yang ditampilkan memiliki kualitas premium dan sudah melalui proses kurasi oleh ITPC Los Angeles. Sehingga, produk tersebut layak ekspor dan dapat memenuhi permintaan pasar AS.

Paviliun Indonesia berada di lokasi yang strategis dengan presentasi produk yang atraktif sehingga menarik antusiasme pengunjung. Musisi asal AS, Rick Stickney, melakukan demonstrasi produk dari Sjuman Instruments dan menambah daya tarik bagi pengunjung untuk datang ke Paviliun Indonesia.

Menurut Bayu, Sjuman Instruments yang kembali mengikuti The NAMM Show tahun ini menghadirkan gitar seri SQI Stealth. Gitar tersebut diproduksi menggunakan material daur ulang dan diolah oleh pengrajin Indonesia sehingga mempunyai ciri khas sendiri.

Sedangkan, Dr. Case, produsen tas alat musik asal Bandung juga kembali berpartisipasi dengan menampilkan tas perlengkapan musik, seperti tas gitar dan tas snare drum berkualitas premium.

Sementara itu, Genta Guitar membawa beragam gitar dan ukulele premium salah satunya seri ukulele batik. Seri ukulele batik merupakan ukulele akustik yang dilukis tangan dengan motif batik kupu-kupu. Tingkat kesulitan pengerjaan ukulele batik menjadikannya sebagai incaran para kolektor musik AS.

Sedangkan, Stranough Guitar Technology mengikuti The NAMM Show untuk pertama kalinya. Namun, Stranough Guitar Technology sudah berhasil menarik banyak perhatian para buyer dengan menampilkan The Tripper Guitar. Gitar tersebut merupakan electric guitar travel pertama di Indonesia. 

"The Tripper Guitar memiliki keunggulan yaitu selain mudah dibawa kemana saja, gitar ini juga menggabungkan alat musik konvensional dengan sentuhan teknologi," imbuh Bayu.

Bayu menjelaskan, tren pasar instrumen musik tahun 2020 mulai mengarah ke penggabungan alat musik tradisional dengan sentuhan teknologi, seperti produk gitar yang dikombinasikan dengan mikroprosesor genggam, sehingga ringkas dan mudah dibawa bepergian.

Lebih lanjut, menurut Bayu, produk alat musik dan pengeras suara asal Indonesia juga mendapatkan preferensi tarif khusus untuk masuk ke pasar AS melalui skema Generalized System of Preference (GSP). Alat musik Indonesia mendapatkan keringanan/tanpa bea masuk (competitive advantage) untuk memasuki pasar AS dibandingkan produk serupa dari negara lain.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Dody Edward menambahkan, para perwakilan perdagangan di luar negeri agar dapat memanfaatkan kerja sama untuk meningkatkan ekspor.

"Para pengusaha atau eksportir diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan varian produk, serta mengembangkan inovasi produk alat musik agar dapat bersaing di pasar global. Selain itu, Kemendag mengharapkan agar para pengusaha dapat memanfaatkan kerja sama dengan ITPC atau Atase Perdagangan di luar negeri dalam meningkatkan ekspor. Potensi ekspor alat musik petik seperti gitar saat ini lebih menjanjikan dibandingkan tahun sebelumnya," kata Dirjen Dody.

ITPC LA menjelaskan Indonesia berencana kembali berpartisipasi pada The NAMM Show 2021 yang rencananya akan kembali diselenggarakan di Anaheim, California.

"Dengan kembali berpartisipasi dalam pameran mendatang, kita dapat memperluas promosi alat musik, aksesoris, dan teknologi musik Indonesia, serta membawa lebih banyak penggiat industri musik tanah air. Hal itu dapat membuka peluang industri musik Indonesia berkembang khususnya di pasar Amerika Serikat," pungkas Bayu.

Indonesia merupakan pemasok alat musik terbesar ketiga di Amerika Serikat setelah Tiongkok dan Meksiko. Pangsa pasar Indonesia sebesar 3 persen atau sekitar USD 170 juta. Ekspor Indonesia ke AS periode JanuariNovember 2019 tercatat sebesar USD 18 juta, atau meningkat 16 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.(Rel)
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini