Laporan Di Polsek Helvetia Tak Kunjung P-21, Ibu Hamil korban Penganiayaan Ngadu ke LBH

Sebarkan:
Korban NM menunjukan Surat Aduannya Ke LBH
Medan - Merasa dizholimi, korban NM (30) akhirnya mendatangi kantor lembaga bantuan hukum (LBH) Medan, Jl. Hindu, Kel. Kesawan, Kec. Medan Barat, Senin (9/12).

Kedatangan korban NM,  resmi meminta perlindungan hukum terkait kasus yang dialaminya yakni menjadi korban penganiayaan yang dilakukan secara bersama-sama oleh pasangan suami istri (pasutri) seorang dosen bernama BS (37) dan istrinya DMS (35).

Dirinya meminta perlindungan hukum karena setelah menjadi korban penganiayaan malah dilaporkan balik oleh kedua tersangka karena dituding telah menganiaya pasutri tersebut. Parahnya, kepastian hukum untuk korban seakan tidak ada diberikan mengingat kedua tersangka tak kunjung ditahan, bahkan SPDP kedua tersangka seakan digantung yang tak kunjung P21 hingga saat ini.

"Saya hari ini sudah datang untuk meminta bantuan perlindungan hukum ke LBH dan kemudian didampingi untuk memberikan keterangan terkait kasus saya ke Polrestabes Medan sebagai saksi," kata NM kepada wartawan.

Didampingi pihak LBH, korban pun memenuhi panggilan penyidik Polrestabes Medan untuk dimintai keterangannya sebagai saksi.

Menanggapi hal yang menimpa korban, beberapa praktisi hukum pun sempat prihatin menanggapi kasus ini, setelah praktisi hukum Zulheri Sinaga memberikan komentarnya, kini rasa prihatin datang dari seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Harapan (Unhar), Muslim Harahap. Muslim menegaskan agar korban diberi keadilan dan

"Saran saya (korban) minta perlindungan dari Dinas PP dan PA Provsu Jl. Iskandar Muda No. 272. (Kantornya) sebelah Disdukcapil Kota Medan," kata Muslim menyarankan.

Muslim juga sedikit memberikan statementnya bahwa Polsek Helvetia sebagai aparat hukum dapat mewujudkan keadilan yang benar dan kebenaran yang adil menuju pri kehidupan berbangsa dan bernegara yang menjunjung hukum.

"Polisi harus bisa mewujudkan keadilan kepada korban," ucapnya.

Sebelumnya, menanggapi kinerja Polsek Helvetia dalam kasus ini membuat praktisi hukum Zulheri Sinaga angkat bicara. Dirinya mengatakan bahwa setiap orang berhak untuk melaporkan seseorang kalau memang diduga melakukan tindak pidana.

"Persoalannyakan sekarang penyidik harus fair. Logis nggak seorang ibu hamil yang usia kandungan pada saat kejadian sudah 5 bulan bisa menganiaya seorang pria dewasa dan seorang wanita dewasa secara bersamaan, kan agak lucu itu," katanya.

"Jangankan polisi sebagai penyidik, kita masyarakat awam saja menilai kejadian itu riskan sekali. Kita mendukung proses hukum bagi setiap warga negara karena setiap warga negara harus taat pada hukum karena Indonesia ini adalah negara hukum dan penegak hukum itu tidak boleh berat sebelah, tidak boleh ada keberpihakan dan harus independen," tegasnya.

Sebab, lanjut dikatakannya, polisi sebagai pelayan dan pelindung masyarakat, siapapun dia, polisi harus memberikan perlindungan hukum.

Dirinya juga terheran-heran dan seakan terkejut saat korban malah dilaporkan balik dituduh menganiaya kedua tersangka ke Polrestabes Medan. Menurutnya, kasus tersebut terasa ganjil dimana korban dianiaya pada 23 Oktober 2019 sekira pukul 19.00 Wib dan telah dilaporkan ke Polsek Helvetia di hari yang sama dengan bukti LP/760/X/2019/SU/ Polrestabes Medan/ Sek. Medan Helvetia. Sementara kedua tersangka baru melaporkan korban ke Polrestabes Medan dengan LP/2502/K/XI/2019/ SPKT Restabes Medan, tanggal 2 November 2019.

"Aduh, aku kalau Senin ini tak keluar kota, aku mau mendampingi korban. Geram kali aku kalau dengar kasus kayak gini. Udah jadi korban penganiayaan secara bersama-sama malah dilaporkan pula lagi (korban) ke Polrestabes Medan," ucapnya.

Zulheri juga menilai kalau kedua pasutri pelaku penganiayaan itu sudah ditetapkan sebagai tersangka harus segera ditangkap, lengkapi berkasnya dan segera mungkin limpahkan ke kejaksaan.

"Seseorang itu yang dijadikan tersangka dilakukan penahanan ada 3 alasan, alasan pertama apabila penyidik khawatir tersangka melarikan diri, yang kedua mengulangi perbuatannya dan yang ketiga menghilangkan barang bukti. Nah kalau orang hamil dianiaya, bukti sudah cukup namun tersangka tidak ditahan, saya pikir ini penyidiknya perlu dipertanyakan kredibilitasnya sebagai penyidik dan saya rasa perlu juga dievaluasi Kanit Reskrimnya, berarti kan tidak ada kontrol dia pada anak buahnya," katanya.

"Masa kasus begitu saja tak selesai-selesai. Kenapa tak kunjung P21 ? Saya rasa wajar saja bila Kapolrestabes Medan mengevaluasi kinerja Kanit Reskrimnya," pungkasnya.

Sebelumnya, pasangan suami istri Baron Simarmata dan Lena Simanjuntak tega menganiaya tetangganya sendiri hanya persoalan anjing menggonggong di Komplek Perumahan Mega Town House, Jl. Bakti Luhur, Medan Helvetia, Rabu (23/10) lalu. Dimana setelah korban dianiaya tersangka Lena lalu datang suaminya Baron malah ikut memukul dan membanting korban. (rel/01)
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini